Senin, 29 Desember 2014

Kejadian Lucu atau aneh ? :(

Pagi, tepatnya pukul 09.00, wanita dengan outfit muslimah brown :)
berangkat seperti biasanya dengan menggunakan angkutan umum  berwarna kuning (yang dikota kami dinamakan "PETE-PETE).
hari ini dia berangkat tanpa adik wanitanya yang kebetulan memilih tempat kuliah yang sama yaitu IAIN PALOPO (lebih dikenal dengan STAIN PALOPO).
sesampai dikampus bertemu teman sekelah, teman yang katanya gank "ANGEL EYES" (HEHEH)
dia itu yang banyak kali gue repotin pas dapat kuliah disiang bolong. biasa tempatnya dipakai buat istirahat dan makan siang. makasih buat teman aku yang satu ini :D
lanjut lagi ke cerita awal hihi :D
pas dah ketemu kita barengan masuk keperpus tapi gak langsung masuk ke ruang referensi kita naik dulu nyari buku di lantas atas.
setelah itu baru deh masuk keruang referensi. ampun deh, awalnya gak terlalu parah nih batuk, pas dah asyik asyiknya buat ngetik proposal, taukan suasana perpus yang sepi diamnya minta ampun kaya dikuburan mesti orangnya rame. gue ni tiba - tiba Batuk wekkkk :( dan parahnya batuk gue tuh iiii hehehh hanya teman - teman gua yeng tau :D memalukan semua pada liatin.:D

Sabtu, 29 Maret 2014

kumpulan_makalah

 MAKALAH ILMU KALAM
“MASALAH TASAWUF”


OLEH :
KELOMPOK VIII (DELAPAN)

§  SRI HAMDANAH                   (12.16.12.0070)
§  SRI WULANDARI                  (12.16.12.00   )


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PALOPO
TARBIYAH 2012/2013



KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menjadikan bumi beserta isinya dengan begitu sempurna dan atas limpahan rahmat, taufiq serta hidayah – Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan dengan mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul “masalah tasawuf” untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam.
Ucapan terima kasih dan rasa hormat Penulis kepada semua pihak yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini.Akhir kata, Penulis sampaikan bahwa tiada makalah yang sempurna tanpa uluran tangan pemerhatinya. Oleh karena itu, kritik serta saran sangat Penulis harapkan dari pembaca sekalian yang bersifat membangun, agar demi lebih baiknya kinerja kami yang akan mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak.




                                                                                                            Hormat Kami,


                                                                                                               Tim Penulis


DAFTAR ISI
Kata Pengantar........................................................................................................    2 
Daftar Isi ..............................................................................................................      3
BAB I   PENDAHULUAN ...................................................................................    4
BAB II    PEMBAHASAN……………………...................................................     6
A.    PENGERTIAN TASAWUF…………………..............................................      6
B.     SUMBER  AJARAN TASAWUF…………................................................      11
C.     MAQAMAT DALAM TAAWRUF..............................................................      18
D.    HUBUNGAN  AKHLAK DAN TASAWUF………………….........................................................................      23
BAB III KESIMPULAN ....................................................................................   25 
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................   27










BAB I
PENDAHULUAN

                  A.     Latar Belakang

Istilah "tasawuf"(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian.
Menurut pendapat lain kata itu berasal dari kata kerja bahasa Arab safwe yang berarti orang-orang yang terpilih. Makna ini sering dikutip dalam literatur sufi. Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti baris atau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertama dalam salat atau dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwa kata itu berasal dari shuffa, ini serambi rendah terbuat dari tanah liat dan sedikit nyembul di atas tanah di luar Mesjid Nabi di Madinah, tempat orang-orang miskin berhati baik yang mengikuti beliau sering duduk-duduk. Ada pula yang menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba, yang me- nunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang mempedulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubah sederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun.
Apa pun asalnya, istilah tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin.
    B. Pembatasan Masalah

Agar tidak terjadi kesalah pahaman maka pembahasan masalah, kami membatasi dan menetapkan objeknya sebagai berikut : Pengertian Tasawuf, sumber – sumber ajaran tasawuf, maqamat dalam tasawuf,  hubungan antara akhlak dan tasawuf.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, kami merangkum beberapa rumusan masalah yang diangkat antara lain :
A.    pengertian tasawuf
B.     sumber ajaran tasawuf
C.     maqamat  dalam tasawuf
D.    hubungan akhlak dan tasawuf
D.    Tujuan Penulisan
Penulisan makalah mengenai manusia dan tanggung jawab ini mempunyai tujuan antara lain :
·         Mengetahui dan memahami makna tasawuf
·         Mengetahui dan memahami makna sumber ajaran tasawuf
·         Mengetahui dan memahami makna maqamat dalam tasawuf
·         Mengetahui dan memahami makna hubungan akhlak dan tasawuf.

                                                         BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN TASAWUF.

Istilah "tasawuf"(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian.[1]
Menurut pendapat lain kata itu berasal dari kata kerja bahasa Arab safwe yang berarti orang-orang yang terpilih. Makna ini sering dikutip dalam literatur sufi. Sebagian berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata shafwe yang berarti baris atau deret, yang menunjukkan kaum Muslim awal yang berdiri di baris pertama dalam salat atau dalam perang suci. Sebagian lainnya lagi berpendapat bahwa kata itu berasal dari shuffa, ini serambi rendah terbuat dari tanah liat dan sedikit nyembul di atas tanah di luar Mesjid Nabi di Madinah, tempat orang-orang miskin berhati baik yang mengikuti beliau sering duduk-duduk. Ada pula yang menganggap bahwa kata tasawuf berasal dari shuf yang berarti bulu domba, yang me- nunjukkan bahwa orang-orang yang tertarik pada pengetahuan batin kurang mempedulikan penampilan lahiriahnya dan sering memakai jubah sederhana yang terbuat dari bulu domba sepanjang tahun.
Apa pun asalnya, istilah tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin.
Penting diperhatikan bahwa istilah ini hampir tak pernah digunakan pada dua abad pertama Hijriah. Banyak pengritik sufi, atau musuh-musuh mereka, mengingatkan kita bahwa istilah tersebut tak pernah terdengar di masa hidup Nabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang hidup setelah mereka.
Namun, di abad kedua dan ketiga setelah kedatangan Islam (622), ada sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi, atau menggunakan istilah serupa lainnya yang berhubungan dengan tasawuf, yang berarti bahwa mereka mengikuti jalan penyucian diri, penyucian "hati", dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia, dengan mengetahui bahwa sekalipun mereka tidak melihat Dia, Dia melihat mereka. Inilah makna istilah tasawuf sepanjang zaman dalam konteks Islam.
Saya kutipkan di bawah ini beberapa definisi dari syekh besar sufi: [2]
Imam Junaid dari Baghdad (m.910) mendefinisikan tasawuf sebagai "mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah". Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m.1258), syekh sufi besar dari Arika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai "praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan". Syekh Ahmad Zorruq (m.1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut:
Ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.
Ia menambahkan, "Fondasi tasawuf ialah pengetahuan tentang tauhid, dan setelah itu Anda memerlukan manisnya keyakinan dan kepastian; apabila tidak demikian maka Anda tidak akan dapat mengadakan penyembuhan 'hati'."
Menurut Syekh Ibn Ajiba (m.1809):
Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.
Syekh as-Suyuthi berkata, "Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk".
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan di atas Zakaria al-Anshari (852 H/ 1448 M-925 H/1519 M) seorang penulis tasawuf meringkas tasawuf sebagai cara menyucikan diri meningkatkan akhlak dan membangun kehidupan jasmani dan rohani untuk mencapai kebahagiaan abadi. Unsur utama tasawuf adalah penyucian diri dan tujuan akhirnya adalah kebahagiaan dan keselamatan.
Selain itu Ibrahim Basyuni sarjana muslim kebangsaan Mesir setelah mengemukakan 40 definisi tasawuf termasuk beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas, mengategorikan pengertian tasawuf pada tiga hal :[3]
Pertama, kategori al-bidayah, yaitu pengertian tasawuf pada tingkat permulaan. Kategori ini dikemukakan Makruf al-Kurkhi menekankan kecenderungan jiwa dan kerinduannya secara fitrah kepada Yang Maha Mutlak, sehingga orang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Kedua, kategori al-mujahadah, yaitu pengertian tasawuf pada pengamalan yang didasarkan pada kesungguhan. Pengertian ini misalnya diberikan oleh al-Jurairi dan al-Qusyairi yang lebih menonjolkan akhlak dan amal dalam pendekatan diri kepada Allah Swt.
Ketiga, kategori al-madzaqat, yakni pengertian tasawuf pada pengalaman batin dan perasaan keberagaman, terutama dalam mendekati Zat Yang Mutlak.
Dari ketiga pengertian umum di atas, Basyuni menyimpulkan bahwa tasawuf adalah kesadaran murni yang mengerahkan jiwa secara benar kepada amal dan aktivitas yang sungguh-sungguh dan menjauhkan diri dari keduniaan dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt untuk mendapatkan perasaan dalam berhubungan dengan-Nya.
Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai pengertian tasawuf menurut para sufi dan para pengamat, tetapi ada dua hal pokok tentang tasawuf yang disepakati semua pihak, yaitu (1) kesucian jiwa untuk menghadap Tuhan sebagai Zat Yang Maha Suci, (2) upaya pendekatan diri secara individual kepada-Nya. [4]
Jadi, pada intinya tasawuf adalah usaha untuk menyucikan jiwa sesuci mungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran Tuhan senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan.
Kedua pokok tasawuf itu mengacu pada pesan dalam al-Qur’an :
Artinya : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), Dan ingat nama Tuhannya, lalu Dia sembahyang.” (Qs. Al-A’laa: 14-15)[5]
Dari banyak ucapan yang tercatat dan tulisan tentang tasawuf seperti ini, dapatlah disimpulkan bahwa basis tasawuf ialah penyucian "hati" dan penjagaannya dari setiap cedera, dan bahwa produk akhirya ialah hubungan yang benar dan harmonis antara manusia dan Penciptanya. Jadi, sufi adalah orang yang telah dimampukan Allah untuk menyucikan "hati"-nya dan menegakkan hubungannya dengan Dia dan ciptaan-Nya dengan melangkah pada jalan yang benar, sebagaimana dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Nabi Muhammad saw.
Dalam konteks Islam tradisional tasawuf berdasarkan pada kebaikan budi ( adab) yang akhirnya mengantarkan kepada kebaikan dan kesadaran universal. Ke baikan dimulai dari adab lahiriah, dan kaum sufi yang benar akan mempraktikkan pembersihan lahiriah serta tetap berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah, la mulai dengan mengikuti hukum Islam, yakni dengan menegakkan hukum dan ketentuan-ketentuan Islam yang tepat, yang merupakan jalan ketaatan kepada Allah. Jadi, tasawuf dimulai dengan mendapatkan pe ngetahuan tentang amal-amal lahiriah untuk membangun, mengembangkan, dan menghidupkan keadaan batin yang sudah sadar. [6]
Adalah keliru mengira bahwa seorang sufi dapat mencapai buah-buah tasawuf, yakni cahaya batin, kepastian dan pengetahuan tentang Allah (ma'rifah) tanpa memelihara kulit pelindung lahiriah yang berdasarkan pada ketaatan terhadap tuntutan hukum syariat. Perilaku lahiriah yang benar ini-perilaku--fisik--didasarkan pada doa dan pelaksanaan salat serta semua amal ibadah ritual yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw untuk mencapai kewaspadaan "hati", bersama suasana hati dan keadaan yang menyertainya. Kemudian orang dapat majupada tangga penyucian dari niat rendahnya menuju cita-cita yang lebih tinggi, dari kesadaran akan ketamakan dan kebanggaan menuju kepuasan yang rendah hati (tawadu') dan mulia. Pekerjaan batin harus diteruskan da1am situasi lahiriah yang terisi dan terpelihara baik.

  1. SUMBER AJARAN TASAWUF.
1.    Sumber Ajaran Tasawuf dalam perspektif Islam[7]
a.       Al-Qur’an (ayat-ayat Allah)
Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan tentang ayat-ayat al-Qur’an tentang tasawuf, kami akan mengemukakan beberapa definisi al-Qur’an. Menurut Dr. Muhammad Yusuf Musa al-Qur’an ialah kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad SAW  dan disampaikan kepada kita secara mutawatir. Sedangkan menurut istilah ahli Syara’ al-Qur’an ialah wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat bagi beliau, wahyu itu diturunkan dalam bahasa arab dan disampaikan kepada masyarakat secara mutawatir, baik dengan lisan maupun tulisan, dan orang yang membacanya mendapat pahala dari Allah SWT..
    Sebagai sumber ajaran agama islam, al-Qur’an menghadirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan tasawuf, mulai dari ayat yang berhubungan dengan  ajaran yang sangat mendasar dalam tasawuf sampai kepada ayat yang berhubungan dengan maqamat dan ahwal. Di bawah ini akan diuraikan beberapa ayat yang berhubungan dengan ajaran tasawuf.
Firman Allah SWT dalam surah al-Anfal ayat 17, yaitu[8]
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى (الأنفال : ١۷ )
Artinya: tidaklah engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang melempar.
Menurut pendapat kaum sufi, ayat ini adalah dasar yang kuat sekali dalam hidup kerohanian ( tasawuf ). Beberapa soal besar dalam tingkat-tingkat perjuangan kehidupan dapat disimpulkan dalam ayat ini. Yang melempar bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Tuhan. Gerak dan gerik tidak pada kita, melainkan dari Allah. Kita bergerak dalam kehidupan ini hanyalah pada lahir belaka. Tidak ada yang terjadi jika tidak ada izin dari Allah. Seorang hamba Allah dengan Tuhannya, hanya laksana sebuah Qalam dalam tangan seorang penulis. Menulis karena digerakan saja. Yang dituliskan tidak lain dari pada kehendak si penulis.
Selanjutnya, paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia, merupakan ajaran dasar dari tasawuf. Hal ini sesuai dengan firman Allah:[9]
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشدونَ(البقرة : ١٨٦)
Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. ( QS. al-Baqarah: 186).[10]
b.      As Sunnah (Rasulullah)
Rasul merupakan sumber kedua setelah Allah bagi para sufi dalam mendalami dan pengambangkan ilmunya, karena hanya kepada Rasul sajalah Allah menitipkan wahyuNya. Tentulah Rasul pula yang lebih banyak tahu tentang sesuatu yang tersirat dibalik yang tersurat dalam Al-Qur’an. Selain itu rosul pulalah satu-satunya manusia yang sempurna dalam segala hal, Beliau adalah insan panutan bagi semua umat manusia terutama kaum sufi yang senantiasa mencoba meniru semua kelakuan Rasulullah dengan sebaik-baiknya.
Seperti sebelum Nabi diangkat menjadi rasul, berhari-hari ia mengasingkan diri di Gua Hira, terutama pada saat bulan Ramadhan. Beliau menjauhi pola hidup kebendaan yang pada waktu itu diagung-agungkan oleh orang arab yang tengah tenggelam di dalamnya, seperti peraktek pedagangan dengan perinsip mengalahkan segala cara. Selama di Gua Hira, Rasulullah hanyalah bertafakur, beribadah, dan hidup sebagai seorang zahid. Beliau hidup sangat sederhana, terkadang mengenakan pakaian tambalan, tidak makan atau minum kecuali yang halal, dan setiap malam senantiasa beribadah kepada Allah SWT., sehingga siti Aisyah bertanya, “mengapa engkau berbuat begini, ya Rasulullah padahal Allah senantiasa mengampuni dosamu?” Rasulullah menjawab “apakah engkau tidak menginginkanku menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah? “.
Selain dari itu di dalam hadits Rasulullah banyak dijumpai keterangan yang berbicara tentang kehidupan rohaniah manusia yang dapat difahami dengan pendekatan tasawuf, seperti hadits; [11]
من عرف نفسه فقد عرف ربه
Artinya: “Barangsiapa yang mengenal dirinya sendiri berarti ia mengenal tuhannya.”
لا يزال العبد يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فاءذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع وبصره الذي يبصربه ولسانه الذي ينطق به ويده الذي يبطش بها ورجله الذي يمشى بها فبي يسمع فبي يبصر وبي ينطق وبي يعقل وبي يبطش وبي يمشى
Artinya: “senantiasa seorang hamba itu mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnah sehingga aku mencintainya. Maka tatkala mencintainya, jadilah aku pendengarnya yang dia pakai untuk melihat dan lidahnya yang dia pakai untuk berbicara dan tangannya yang dia pakai untuk mengepal dan kakinya yang dia pakai untuk berusaha; maka dengan-Ku-lah dia mendengar, melihat, berbicara, berfikir, meninjau dan berjalan.”
Semua keterangn tersebut ada pada diri rasulullah yang oleh para sufi dijadikan sebagai sumber kedua dari ilmu tasawuf setelah Allah SWT.
Selain itu, Sumber lain yang diacu oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat Nabi SAW yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketaqwaan, kezuhudan, dan budi pekerti luhur. Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah SAW dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi. Oleh sebab itu, perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi SAW, kecuali dalam hal-hal tertentu yang khusus bagi Nabi SAW. Setidak-tidaknya kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Oleh karena itu al-Qur’an memuji mereka:[12]
وَالسَّابِقُونَ الاَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي من تَحْتَهَا الانْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ  الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. 9:100).

c.       Ijma’ Sufi
Ijma’ Sufi (kesepakatan para ‘ulama tasawuf) merupakan esensi yang sangat penting dalam ilmu tasawuf, karenanya mereka dijadikan sebagai sumber yang ke tiga dalam ilmu tasawuf setelah Al-Qur’an Dan Al-Hadits.
d.      Ijtihad Sufi
Dalam kesendiriannya, para sufi banyak menghadapi pengalaman aneh, pengalaman itu sebagai alat pembeda antara kepositifan dengan kenegatifan dalam pengalaman itu. Maka diperlukan ijtihad bagi setiap sufi sebagai sumber yang ke 4 dalam ilmu tasawuf, jika belum ditemukan dalam Qur’an, Hadits maupun ijma’ sufi.
e.       Qiyas Sufi
    Qiyas merupakan penghantar sufi untuk dapat berijtihad secara mandiri jika sedang terpisah dari jama’ahnya, maka qiyas ditempatkan pada sumber ke lima dalam ilmu tasawuf.
2.    Sumber Ajaran Tasawuf dalam perspektif Orientalis Barat[13]
Dikalangan para orientalis barat bisanya dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur masehi (Agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.
a.        Unsur Islam
Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriyah atau jasadiyah, dan kehidupan yang bersifat batiniyah. Pada unsure kehidupan yang bersifat batiniyah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam, Al-Quran dan As-Sunnah praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya, ijma’, ijtihad, serta Qiyas.
b.       Unsur Masehi
Orang Arab sangat menyukai cara kependetaan, khususnya dalam hal latihan jiwa dan ibadah. Atas dasar ini tidak mengherankan jika Von Kromyer berpendapat bahwa tasawuf adalah buah dari unsure Agama Nasrani yang terdapat pada zaman jahiliyah. Hal ini diperkuat oleh Gold Ziher yang mengatakan bahwa sikap pakir dalam Islam adalah merupakan cabang dari Agama Nasrani. Unsur-unsur tasawuf yang di duga mempengaruhi tasawuf Islam adalah sikap fakir. Menurut keyakinan Nasrani bahwa Isa bin Maryam adalah seorang fakir.
c.        Unsur Yunani
Kebudayaan Yunani yaitu filsafatnya telah masuk pada dunia dimana perkembangannya dimulai pada akhir daulah Umayah dan puncaknya pada daulah Abbasiyah, metode berfikir filsafat Yunani ini juga telah ikut mempengaruhi pola berfikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Kalau pada bagian uraian dimulai perkembangan tasawuf ini baru dalam taraf amaliyah (akhlak) dalam pengaruh filsafat Yunani ini maka uraian-uraian tentang tasawuf itupun telah berubah menjadi tasawuf filsafat.
 Tetapi dengan munculannya filsafat aliran Neo Platonis menggambarkan, bahwa hakikat yang tertinggi hanya dapat dicapai lewat yang diletakkan Tuhan pada hati setiap hamba setelah seseorang itu membersihkan dirinya dari pengaruh Ungkapan Neo Platonis: kenalilah dirimu dengan dirimu.[14]
d.      Unsur Hindu/Budha
Antara tasawuf dan sisitem kepercayaan Agama Hindu/Budha dapat dilihat adanya hubungan seperti sikap fakir. Al birawi mencatat bahwa ada persamaan antara cara ibadah dan mujahadah tasawuf dengan Hindu kemudian pula paham renkarnasi (perpindahan roh dari satu badan ke badan yang lain), cara kelepasan dari dunia persis Hindu/Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat Allah. Salah satu maqamat sufiyah al fana tampaknya ada persamaan dengan ajaran tentang nirwana dalam agama Hindu.
e.       Unsur Persia
Sebenarnya antara Arab dan Persia itu sudah ada hubungan semenjak lama yaitu hubungan dalam bidang politik, pemikiran, kemasyarakatan, dan sastra.  Akan tetapi belum ditemukan dalil yang kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia telah masuk ke tanah Arab. Yang jelas adalah kehidupan kerohanian Arab masuk ke Persia itu terjadi melalui ahli-ahli tasawuf di dunia ini.
  1. MAQAMAT DALAM TASAWUF[15]
Tasawuf sebagai suatu proses menuju ma’rifat Tuhan memiliki beberapa maqamat. Secara etimologi maqamat berasal dari bahasa arab yang merupakan jamak dari maqam yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah tersebut kemudian di gunakan untuk  arti jalan panjang yang harus di tempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Maqamat dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah stages yang berarti tangga. Maqam arti dasarnya 1) adalah “tempat berdiri”, dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya. Adapun “ahwal” bentuk jamak dari ‘hal’ 2) biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.
Dengan arti kata lain, maqam didefinisikan sebagai suatu tahap adab (etika) kepadaNya dengan bermacam usaha diwujudkan untuk satu tujuan pencarian dan ukuran tugas masing-masing yang berada dalam tahapnya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadah (exercise) menuju kepadanya. Seorang sufi tidak dibenarkan berpindah ke suatu maqam lain, kecuali setelah menyelesaikan syarat-syarat yang ada dalam maqam tersebut. Tahap-tahap atau tingkat-tingkat maqam ini bukannya berbentuk yang sama di antara ahli-ahli sufi, namun mereka bersependapat bahwa tahap permulaan bagi setiap maqam ialah tawbah. Rentetan amalan para sufi tersebut di atas akan memberi kesan kepada kondisi rohani yang disebut sebagai al-ahwal yang diperoleh secara intuitif dalam hati secara tidak langsung sebagai anugerah daripada Allah semata-mata, daripada rasa senang atau sedih, rindu atau benci, rasa takut atau sukacita, ketenangan atau kecemasan secara berlawanan dalam realiti dan pengalaman dan sebagainya. Al-Maqamat dan al-ahwal adalah dua bentuk kesinambungan yang bersambungan dan bertalian daripada kausaliti (sebab akibat) amalan-amalan melalui latihan-latihan (exersice) rohani.[16]
Maqam menurut Al-Suhrawardi dalam kitabnya Adab al-Muridin, berarti posisi seseorang dalam peribadatan di hadapan Tuhannya. Beberapa maqam tersebut adalah terjaga dari kelalaian, tobat, kembali (inabah), penjagaan moral (wara’), pengujian jiwa (muhasabat al-nafs), ilham (iradah), penolakan (zuhd), kefaqiran (faqr), kejujuran (shidq), dan menahan diri (tashabbur), yang merupakan maqam terakhir seorang pemula. Kemudian kesabaran (shabr), kepuasan (ridha), ikhlas, keyakinan kepada Tuhan (tawakkul).
Sedangkan menurut Muhammad Al-Kalabazy dalam kitabnya al-Ta’arruf li Mazhab ahl al-Tasawwuf,maqamat itu jumlahnya ada sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-shabr, al-faqr, al-tawadlu’, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah dan al-ma’rifah.
Sementara itu Abu Nasr al-sarraj al-Tusi dalam kitab al-Luma’ menyebutkan jumlah maqamat hanya ada tujuh, yaitu al-taubah, al-wara’, al-zuhud, al-faqr, al-tawakkal dan al-ridla. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din, mengatakan bahwa jumlah maqamat ada delapan, yaitu al-taubah, al-shabr, al-zuhud, al-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah  dan  al-ridla.
Maka maqamat adalah beberapa posisi atau keadaan seorang sufi ketika beribadah yang  merupakan jalan yang harus ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jumlah maqamat yang bervariasi menurut beberapa pendapat tersebut juga telah disepakati hanya ada tujuh saja, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-wara’, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal dan al-ridla. Berikut adalah penjelasannya: [17]
1.    Al-Zuhud
Zuhud adalah suatu keadaan meninggalkan keduniawian dan hal-hal yang bersifat kematerian. Orang zuhud menyimpan harta di tangannya, bukan di dalam hatinya. Jadi orang zuhud tidak akan sedih meskipun kehilangan hartanya. Zuhud merupakan suatu  ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari kehidupan dunia. Orang yang zuhud cenderung mengejar kehidupan akhirat yang kekal dan abadi dari pada kehidupan dunia yang fana dan sementara.
Selanjutnya para sufi sangat senang jika ada orang yang menghalangi mereka dari keduniaan yang hanya memuaskan syahwat. Umar Ibn Abd Al-Aziz berkata,”Hendaklah kalian mematikan syahwat-syahwat yang ada dalam diri kalian. Tetapi, janganlah mematikan diri kalian di dalam syahwat. Sebab, seseorang yang menempatkan syahwat di bawah kakinya, setan akan lari dari bayangannya. Orang yang menempatkan syahwat di dalam hatinya, setan akan mengendalikannya.”
2.    Al-Taubah
Taubah berasal dari bahasa Arab yang artinya kembali. Taubat dalam dunia sufi ini memiliki arti taubat yang sebenarnya (taubat al-Nasuha) yaitu menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan berjanji serta bersungguh-sungguh untuk tidak melakukannya lagi. Para sufi adalah orang yang selalu menyesali diri ketika berbuat dosa, dan hal itu dilakukan setiap hari, karena bagi mereka dosa yang lalu belum tentu mendapat pengampunan dari Allah.
Abu Muhammad Al-Marwazi berkata,”Ada lima hal yang membuat Adam mendapat ampunan dari Allah adalah: mengakui dosa, menyesalinya, mencela dirinya karena dosa, cepat bertobat, tidak putus asa dari rahmat Allah. [18]
3.    Al-Wara’
Wara’ memiliki arti saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa (hal-hal yang tidak baik). Wara’ dalam pengertian sufi adalah meninggalkan sesuatu yang diragukan halal dan haramnya (syubhat)dan tidak jelas asal-usulnya.
Para sufi sangat berhati-hati dalam mencari harta. Mereka selalu berupaya menghindari harta haram. hingga pada barang yang syubhat saja mereka tidak mau karena barang syubhat lebih dekat pada haram.mereka menyadari benar bahwa makanan, minuman, pakaian dan sebagainya yang haram akan berpengaruh pada si empunya.
4.    Al-Faqr
            Pada umumnya fakir diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh, atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. mereka tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya saja.
5.    Al-Shabr
Secara harfiah sabar berarti tabah hati. Sabar merupakan salah satu maqam utama para sufi. Bagi mereka kesabaran adalah syarat mutlak untuk mencapai tingkat spiritual yang khusus. Dikalangan para sufi sabar terbagi menjadi tiga, yaitu sabar untuk menghindari maksiat, sabar dalam ketaatan, dan sabar ketika mendapat musibah.
Menurut Ali Ibn Abi Thalib bahwa sabar itu adalah bagian dari iman sebagaimana kepala yang kedudukannya lebih tinggi dari pada jasad. Hal itu menunjukkan bahwa sabar sangat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.[19]
6.    Al-Tawakkal
Tawakkal mempunyai arti menyerahkan diri. Dalam dunia sufi tawakkal berarti menyerahkan diri pada qada dan keputusan Allah. Jika mendapat pemberian meraka akan bersyukur dan jika tidak mendapat apa-apa mereka akan bersabar. Menyerahkan kepada Allah dengan Allah dan karena Allah.
Para sufi dikenal sebagai orang yang sangat bertawakkal kepada Allah dalam segala hal. Bagi mereka, tawakkal adalah salah satu upaya untuk memperoleh rahmat dan ridha Allah.
7.    Al-Ridla
Secara harfiah ridha mempunyai arti rela, suka, senang. Para sufi mengartikan ridha adalah penerimaan seseorang atas keputusan Allah. Ketika seorang sufi melatih diri untuk menerima keputusan Allah, ia akan menutup dirinya dari pilihan-pilihan lain selain pilihan Allah.
Keridhaaan yang dipraktekkan oleh para sufi adalah buah penerimaan mereka terhadap Allah sebagai Tuhan yang menentukan segala-galanya.ada sebuah ikrar yang populer di kalangan sufi, yaitu ”Aku ridha (menerima) Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi dan rasul. [20]
  1. HUBUNGAN AKLAK DAN TASAWUF
Para ahli ilmu tasawuf pada umum nya membagi tasawuf kepada tiga bagian. Pertama tasawuf filsafi, kedua tasawuf akhlaki, ketiga tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allh dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seserorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Ketiga macam tasawuf berbeda dalam hal pandekatan yang digunakan. Pada taswuf filsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam taswuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang trdapat dalam kalngan filosof, seperti filsafat tentang Tuhan -, manusia, manusia dengan tuhan dan lain sebagainya. Pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapan nya terdiri dari takholli(mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli(menghiasi dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli(terbukanya dinding penghalang/ hijab) yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur ilahi tampak jelas paadanya. Sedangkan pada tasawof amali pendekatan yang digunakan adalh pendekatan amaliyah atau wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk torikot. Dengan mengmalkan tasawuf baik yang bersifat filsafi, akhlaki atau amali, seseorang dengan sendirinya berskhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, pilihan sendiri, dan bukan karena terpaksa.
            Hubungan antara akhlak dengan tasawuf menurut uraian yang diberikan oleh Harun Nasution ketika mempelajari tasawuf ternyata pula bahwa Al- Quran dan Hadist mementingkan akhlak. Al-Quran dan Hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berpikiran lurus. Nilai- nilai serupa ini yang harus dimiliki seorang muslim, dan dimasukkan kedalam dirinya dari semasa ia kecil.[21]
 Sebagaimana diketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah sangat menonjol, karna bertasawuf itu pada hakikat nya melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, zakat dll, yang semuanya itu uantuk mendekatka diri kepada Allah . ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak. Ibadah dalam Islam erat kali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-Quran dikaitkan dengan takwa, dan takwa itu secara otomatis melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi larangannya. Singkatnya setiaap orang yang bertakwa pasti baik akhlaknya. Harun Nasutioan berkata oarang shufilah, terutama yang pelaksanaan ibadah mya membawa kepada pembinaan akhlak mulia dalam diri mereka. Hal itu, dalam istilah shufi disebut dengan al-takholluq bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, mensifati diri dengan sifat-sifat yamg dimiliki Allah.





BAB III

KESIMPULAN

 

A.        Kesimpulan
1.      Istilah "tasawuf"(sufism), yang telah sangat populer digunakan selama berabad-abad, dan sering dengan bermacam-macam arti, berasal dari tiga huruf Arab, sha, wau dan fa. Banyak pendapat tentang alasan atas asalnya dari sha wa fa. Ada yang berpendapat, kata itu berasal dari shafa yang berarti kesucian.
  1. Sumber Ajaran Tasawuf dalam perspektif Islam :  Al-Qur’an (ayat-ayat Allah), As Sunnah (Rasulullah) , Ijma’ Sufi, lIjtihad Sufi,  Qiyas Sufi. Sumber Ajaran Tasawuf dalam perspektif Orientalis Barat : Dikalangan para orientalis barat bisanya dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam, unsur masehi (Agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.
  2. Maqam arti dasarnya 1) adalah “tempat berdiri”, dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya. Adapun “ahwal” bentuk jamak dari ‘hal’ 2) biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.
  3. ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak. Ibadah dalam Islam erat kali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-Quran dikaitkan dengan takwa, dan takwa itu secara otomatis melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi larangannya.


B.     Saran
Manusia akan semakin terjebak dengan rutinitas kehidupan jika tidak segera menyadari itu semua. Yang penting kita semua bisa belajar untuk hidup dan hidup untuk belajar.Hidup didunia ini adalah kehidupan yang kosong. banyak cobaan yang bakalan kita hadapi, namun jika kita bisa berserah diri kepada ALLAH S.W.T Tuhan Pencipta Semesta Alam, maka semua yang terjadi pasti bakalan ringan untuk dijalani.Selalu ada harapan walau terhempas dibalik keras nya batu karang , janganlah terdiam diantara puing – puing ketidak pastian.
Maka dari itu kami sangat mengharapkan saran dari berbagai kalangan atau individu untuk menyempurnakan makalah kami ini yang berjudul “masalah tasawuf”.









DAFTAR PUSTAKA




[1] http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/tasawuf/allsub/235/definisi-tasawuf.html
[2] http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/tasawuf/allsub/235/definisi-tasawuf.html
[3]https://www.facebook.com/permalink.php?id=227127477433020&story_fbid=272578969554537
[4] https://www.facebook.com/permalink.php?id=227127477433020&story_fbid=272578969554537
[5] Qur’an dan Terjemahan Republik Indonesia
[6] http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/tasawuf/allsub/235/definisi-tasawuf.html
[7] http://makalahkmpus.blogspot.com/2013/04/sumber-tasawuf.html
[8] Al-Qur’an dan Terjemahan Republik Indonesia
[9] Al-quran dan Terjemahan Republik indonesia
[10] Al-quran dan Terjemahan Republik Indonesia
[11] Al-quran dan Terjemahan Republik Indonesia
[12] Al-qur’an dan Terjemahan Republik Indonesia
[13] http://makalahkmpus.blogspot.com/2013/04/sumber-tasawuf.html
[14] http://makalahkmpus.blogspot.com/2013/04/sumber-tasawuf.html
[15] http://nurussubahah.blogspot.com/2012/05/maqamat-dalam-tasawuf.html

[16] http://lusiagitarahmawati.wordpress.com/2012/11/23/makalah-maqomat-dalam-tasawuf/

[17] http://nurussubahah.blogspot.com/2012/05/maqamat-dalam-tasawuf.html
[18]http://nurussubahah.blogspot.com/2012/05/maqamat-dalam-tasawuf.html

[19] http://nurussubahah.blogspot.com/2012/05/maqamat-dalam-tasawuf.html



[20] http://nurussubahah.blogspot.com/2012/05/maqamat-dalam-tasawuf.html